Sabtu, 13 Desember 2008

PERLUNYA PEMAHAMAN PENDIDIKAN PLH


JOYFUL LEARNING
MERUPAKAN UPAYA PEMAHAMAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP (PLH)
Dirilis oleh : Ties Setyaningsih

PLH merupakan bidang studi yang mempelajari kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Secara filosofis, lingkungan hidup itu sendiri adalah berkenaan dengan permukaan bumi sebagai acuan dan segala aktivitas manusia (Stapp & Swan, 1974:59). Oleh karena bumi merupakan titik tolak dalam berbagai aktivitas manusia, maka konsep lingkungan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Bumi sebagai sistem yang tertutup yang mendapatkan energi dari matahari, memiliki sumber daya air, udara, dan tanah dengan persediaan yang terbatas untuk kesejahteraan manusia, memiliki kapasitas sistem dan siklus alam, serta memiliki materi atau bahan mentah yang terbatas.
2. Biosfera yang meliputi makhluk hidup dan benda mati.
3. Manusia yang memiliki peran penting dalam berinteraksi dengan lingkungan alam.
4. Ekonomi dan teknologi yang memberikan kontribusi kepada kesejahteraan manusia dan keberlanjutan lingkungan hidup.
5. Kebijakan lingkungan hidup yang dapat menentukan dalam pengelolaan lingkungan hidup.

Dalam kajiannya, PLH diintegrasikan pada berbagai bidang studi yang mempelajari hubungan antara jasad hidup dengan istilah dan lingkungannya. Di dalamnya termasuk bidang studi IPA, IPS, ORKES, dan Bahasa. Berbagai disiplin ilmu tersebut dipandang dalam suatu ruang lingkup serta perspektif yang luas dan saling berkaitan. Pada dasarnya, PLH merupakan wadah bagi pendekatan interdisipliner dalam mengatasi permasalahan yang berkenaan dengan lingkungan hidup manusia khususnya dan organisme hidup pada umumnya. Dalam mengkaji PLH, tekanan ditujukan terutama kepada menyatukan kembali segala ilmu yang menyangkut masalah lingkungan ke dalam kategori variabel yang menyangkut energi, materi, ruang, waktu dan keanekaragaman.

Tujuan pembelajaran PLH itu sendiri adalah pembinaan peningkatan pengetahuan, kesadaran, sikap, nilai dan perilaku lingkungan hidup yang bertanggung jawab. Perilaku dalam hal ini berhubungan langsung dengan niat untuk bertindak (intention to act) (Orams, 1994). Namun sebelum sampai pada ketetapan bertindak, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi, yaitu: (1) kesiapan dalam bertindak, (2) pengetahuan tentang strategi bertindak, (3) pengetahuan tentang isu, dan (4 faktor-faktor kepribadian sepeti sikap, lokus kontrol, dan tanggung jawab individu. Tugas guru dalam pembelajaran PLH adalah selain membentuk siswi untuk memiliki niat bertindak yang positif terhadap lingkungan hidup, juga memberikan kondisi yang mendukung ke arah perilaku yang sesuai dengan niat tadi. Hal ini disebabkan, untuk mencapai ke arah keberlanjutan lingkungan hidup, niat saja tidak cukup tanpa perilaku yang mendukung.

Masalah-masalah lingkungan hidup yang muncul tidak dapat dipecahkan secara teknis semata, namun yang lebih penting adalah pemecahan yang dapat mengubah mental serta kesadaran akan pengelolaan lingkungan. Meskipun memerlukan proses yang panjang, serta hasilnya tidak dapat dilihat dengan segera seperti halnya pemecahan secara teknis, namun pemecahan melalui pembinaan perubahan perilaku ke arah lebih bertanggung jawab dalam pengelolaan lingkungan merupakan hal yang sangat strategis untuk dilakukan. Hal ini merupakan tantangan bagi pengembangan pendidikan lingkungan untuk dapat memberikan kontribusi terhadap pembentukan perilaku yang bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup.
Jika pembelajaran PLH melalui pendekatan joyful leaning ingin mencapai tujuan, maka sebaiknya memperhatikan beberapa factor sebagai berikut:

1. Kebermaknaan; Pemahaman akan meningkat bila informasi baru dengan gagasan dan pengetahuan yang telah dikuasai oleh murid. Khususnya, istilah dan konsep sering sulit dipahami. Pemahaman tersebut perlu digali melalui pengalaman siswa itu sendiri.
2. Penguatan; terdiri atas pengulangan oleh guru dan latihan oleh siswa. Pengulangan tersebut dan latihan dapat menanggulangi proses lupa.Dalam pendekatan joyful learning, penguatan merupakan yang harus diperhatikan.
3. Umpan balik; kegiatan belajar akan efektif bila siswa menerima dengan cepat tentang hasil-hasil tugas belajar tersebut. Umpan balik sederhana, misalnya koreksi jawaban siswa atas pertanyaan guru selama pelajaran berlangsung, atau koreksi pekerjaan siswa.

Beberapa model pembelajaran yang dapat mendukung pendekatan Joyful Learning antara lain adalah:

1. Diskusi
Diskusi memiliki arti yang penting dalam mengembangkan pemahaman. Hal ini disebabkan diskusi membawa siswa menggunakan konsep mereka pelajari serta mengubahnya menjadi bentuk ekspresi yang cukup menyenangkan bagi siswa. Kegiatan diskusi yang menyenangkan dapat terpenuhi denagan (a) Pengelompokan arti istilah dan pernyataan, (b) Mengadakan pemahaman bersama dalam suatu kelompok, (c) Berbagi pengetahuan dan pengalaman, (d) Membantu siswa memahami informasi baru, (e) Mengidentifikasi berbagai opini dan pandangan, dan (f) Bekerja sama dalam pemecahan masalah

2. Penyelidikan Terbimbing Penyelidikan terbimbing dalam pembelajaran PLH sangatlah relevan, selain menyenangkan juga peluang bagi murid untuk meneliti apa yang telah mereka pelajari dan menerapkannya pada dunia nyata. Penyelidikan yang terbimbing dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, di antaranya adalah mencari tahu tentang siklus air misalnya atau mencari tahu aspek-aspek yang menyebabkan air menjadi tercemar, dan sebagainya. Penyelidikan terbimbing akan efektif jika mengikuti serangkaian langkah berikut: (a) siswa memilih atau diberi topic yang perlu diselidiki atau diteliti, (b) mengumpulkan informasi yang mereka perlukan, (c) menganalisa informasi yang telah mereka kumpulkan, dan (d) menyajikan sebuah laporan tentang temuan-temuan penyelidikan tersebut dapat berbentuk presentasi di kelas, serangkaian gambar, diagram dan grafik dinding, atau laporan tertulis.

3. Model IODE Istilah IODE merupakan akronim bahasa Inggris untuk intake (Penerimaan), Organization (Pengaturan), Demonstration (Peragaan), dan Expression (Pengungkapan). Keempat huruf tersebut menunjukkan bahwa ada empat jenis kegiatan murid pada urutan kegiatan belajar. Model tersebut merupakan cara belajar alami dalam memperoleh pengetahuan baru dalam bidang studi dan cukup menyenangkan siswa. Sebagai contoh, dalam pembelajaran PLH adalah topik efek gangguan iklim El Nino yang telah menimbulkan kekeringan yang luas, kegagalan panen dan kebakaran hutan di Indonesia. Penerapan dalam pembelajaran di kelas adalah sebagai benkut:

a. Penerimaan (intake) Mendengarkan informasi pelajaran, melihat foto, peta dan gambar yang menunjukkan efek-efek El Nino, membaca koran, majalah dan buku, mendengarkan laporan radio dan menonton laporan TV tentang El Nino, mewawancarai petani yang panennya telah dirusakkan oleh El Nino.
b. Pengaturan (Organize) Memetakan daerah-daerah yang terkena El Nino, tulis laporan tentang petani yang terkena kekeringan, siapkan grafik dan tabel yang menunjukkan kerugian karena hilangnya produksi pertanian dan kerugian karena kebakaran hutan, gabungkan laporan-laporan koran tentang turunnya jumlah orang hutan karena kebakaran hutan dan seterusnya.
c. Peragaan (Demonstrate) Menjelaskan bagaimana El Nino terbentuk, menggambarkan daerah-daerah dunia yang terkena efek El Nino, serta merangkum pengaruh El Nino terhadap produksi beras, kerugian hutan, hilangnya dan matinya binatang hutan dan seterusnya.
d. Pengungkapan (Express) Membuat diagram yang menggambarkan efek El Nino, serta menyajikan dalam pembicaraan di kelas tentang El Nino. Atau juga menulis puisi yang menggambarkan perasaan seorang petani yang terkena kekeringan serta menulis cerita tentang kebakaran hutan dan seterusnya.

4. Model Pemecahan Masalah
Model ini dapat digunakan dalam pendekatan Joyful Learning karena dapat menarik minat siswa untuk memecahkan masalah-masalah lingkungan hidup di sekitamya. Seperti, mengapa terjadi banjir, mengapa terjadi wabah kolera, mengapa hutan penting bagi kehidupan manusia, dan sebagainya. Dalam model pemecahan masalah ini, tahap-tahap dalam penyelesaian masalah berbeda-beda sesuai dengan masalah yang bersangkutan, namun secara umum tahapan ini dapat diurutkan sebagai benkut:

a. Identifikasi Masalah Tahap ini merupakan pengenalan masalah atau isu yang ada di sekitar siswa. Dalam hal ini siswa dapat dilibatkan untuk mengemukakan masalah-masalah yang mereka lihat dan rasakan
b. Survei Masalah Pertimbangan tentang berbagai sudut pandang dan aspek yang terkait dengan masalah guna meningkatkan pengertian tentang masalah tersebut.
c. Definisi Masalah Pendefinisian masalah secara tepat akan membantu anak-anak untuk menyelesaikan masalah.
d. Fokus Masalah Ukuran masalah perlu dipertimbangkan untuk dipahami karena akan mempengaruhi cara penyelesaian yang akan dilakukan; guru memiliki peran penting dalam membantu siswa untuk mengarahkan pada persoalan yang utama.
e. Analisis Faktor-Faktor Penyebab. Faktor penyebab harus dicari begitu masalahnya telah diketahui dan ditentukan ukurannya. Karena itu, kita perlu mengembangkan pemahaman murid tentang masalah itu sendiri.
f. Pemecahan masalah karena upaya untuk menyelesaikan masalah sering menimbulkan masalah lain. Siswa dalam hal ini sebaiknya diikutsertakan.

5. Kerja Kelompok Melalui kerja kelompok siswa diberi peluang untuk menentukan tujuan, mengajukan dan menyelidiki, menjelaskan konsep, dan membahas masalah. Kerjasama siswa dapat merangsang pemikiran mereka untuk berbagi gagasan. Menjadi bagian dari suatu kelompok akan menumbuhkan rasa saling memiliki, saling hormat, dan tanggung jawab. Sikap dan perilaku serta keterbukaan pikiran, tanggung jawab, kerja sama, dan perhatian pada orang lain juga dapat dikembangkan. ltu semua adalah keistimewaan penting tentang perilaku kelompok yang efektif. Kerja kelompok yang baik memerlukan persiapan yang cermat dan dipakai hanya:

a. Untuk kegiatan yang memiliki sasaran yang jelas dan yang dapat dilakukan dengan lebih baik oleh suatu kelompok dibandingkan oleh perseorangan.
b. Untuk kegiatan di mana semua anggota kelompok yang bersangkutan dapat diberi tugas berguna yang harus dilaksanakan.
c. Bila semua anggota kelompok tersebut memiliki keterampilan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas yang telah diberi kepada mereka.

Keterampilan tersebut perlu waktu untuk dikembangkan dan dipraktekan secara terus-menerus. Saran-saran berikut ini mungkin berguna ketika memulai kerja kelompok dengan kelas, yaitu:

a. Mulailah kerja kelompok secara perlahan-lahan. Jaga agar kelompok yang bersangkutan tetap kecil, mungkin tidak lebih dari pada 5-8 anak.
b. Pilihiah tugas yang sederhana, singkat dan terdefinisi dengan baik, dan mungkin diselesaikan secara sukses oleh kelompok yang bersangkutan.
c. Angkatlah seorang pemimpin dan seorang pencatat untuk kelompok tersebut atau suruhlah anak-anak yang bersangkutan mengangkatnya. Jelaskan tanggung jawab-tanggung jawab pemimpin, pencatat tersebut dan para anggota lainnya.
d. Beri siswa tersebut bahan-bahan sumber yang mereka perlukan untuk menyelesaikan tugas yang bersangkutan (bila mereka lebih berpengalaman, mereka dapat mengumpulkan sumber mereka sendiri).
e. Gunakan sejumlah waktu dengan setiap kelompok pada awal dan akhir setiap masa kerja. Beri mereka bantuan dan saran tertentu tentang cara mereka untuk melakukan pekerjaan mereka dan cara melaporkan kembali kepada seluruh kelas tentang apa yang sedang mereka lakukan. Pastikanlah bahwa laporan kelompok tersebut kepada seluruh kelas benar-benar ringkas dan menarik.

Pendekatan joyful learning merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran PLH yang mendukung pengembangan berpikir kreatif dan menciptaan suasana belajar yang menyenangkan. Dengan adanya model-model pembelajaran yang dapat menyenangkan dan menarik perhation siswa, diharapkan siswa merasa senang dan bahagia (enjoy) dalam mengikuti pelajaranPLH. Lebih jauh lagi siswa dapat mengembangkan kreativitasnya dalam mengembangkan pengetahuan, sikap, nilai, dan perilaku yang bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup. Dengan demikian, pembelajaran PLH di sekolah dapat mencapai sasaran sesuai dengan tujuan yang ingin di capai.